Mengenal Corak Kerajaan Gowa Tallo

Jul 2, 2019 |

http://soons.co.id – Kerajaan Gowa – Tallo, sebelum menjadi kerajaan Islam, sering berperang dengan kerajaan lain di Sulawesi Selatan seperti Luwu, Osso, Soppeng dan Wajo. Kerajaan Luwu, sekutu Wajo, ditaklukkan oleh kerajaan Gowa-Tallo. Maka, menurut Hikayat Wajo, kerajaan Wajo menjadi wilayah kekuasaan Gowa.

Dalam serangan terhadap kerajaan Gowa – Tallo Karaeng Gowa meninggal dan yang lainnya terbunuh pada 1565.

Tiga kerajaan lainnya, Bone, Wajo dan Soppeng, memiliki serikat pekerja pada 1582 untuk mempertahankan kemerdekaan mereka, Tellumpocco.

Sejak Kerajaan Gowa pada 1605 secara resmi menjadi kerajaan Islam, lanjut Gowa, sehingga kerajaan lain mendedikasikan Islam politiknya dan Kerajaan Gowa – menghadirkan Tallo. Pada 10 Mei 1610, kerajaan Wajo akhirnya menaklukkan Kerajaan Gowa-Tallo, pada tanggal 23 November 1611, Kerajaan Bone adalah giliran saya, yang diserahkan kepada Kerajaan Gowa-Tallo.

Di wilayah Sulawesi, islamisasi adalah keberadaan pengkhotbah Dato’Tallu (tiga tanggal), yaitu Dato’RI Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal), Dato’Ri Pattimang (Diberikan ‘Sulaemana atau Khatib memesan salinan) dan Diberikan semakin solid. Ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib Bungsu), ketiga bersaudara, datang dari pusat Kolo, Minangkabau. Adalah mereka yang Raja Luwu mengislamkan, yaitu Datu’La Patiware ‘Daeng Para Bung benar Sultan Muhammad di 15-16 Ramadhan 1013 H (4 sampai 5 Februari 1605 n. Chr.).

Kemudian datang Raja Gowa dan Tallo, yaitu Karaeng Matowaya dari Tallo bernama I Mallingkang Daeng Manyonri

(Karaeng Tallo Tallo, yang menyatakan keyakinannya pada Jumat sore, 9 Jumadil Awal 1014 H 22 SEPTEMBER 1605 atau M dengan gelar sultan Abdullah: Babak Selanjutnya Karaeng Gowa I Manga ‘Rangi Daeng Manrabbia, Jumat, 19 Rajab 1016 H atau 9 November 1607 No. Chr. Untuk mengumumkan kredo

Perkembangan Islam di Sulawesi Selatan adalah tempat terbaik, bahkan ajaran Sufi Khalwatiyah oleh Syaikh Yusuf al-Makassari menyebar pada pertengahan abad ke-17 di Kerajaan Gowa dan kerajaan lainnya. Karena banyak tantangan kaum bangsawan Gowa, ia meninggalkan Sulawesi Selatan dan pergi ke Banten. Di Banten ia diterima oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan bahkan menamai menantunya dan bernama Mufti Kesultanan.

Dalam kisah tersebut disebutkan kisah perjuangan Sultan Hasanuddin.

Ia dilahirkan pada 12 Januari 1631 di Gowa, Sulawesi Selatan, dan meninggal pada 12 Januari 1670 di Gowa. Ia adalah raja ke-16 Gowa dan putra raja 15 Gowa, yaitu I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung, Sultan Muhammad berkata. Dia juga seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape, dan disebut sebagai keran dari Timur. Sultan Hasanuddin memerintah kerajaan Gowa dari tahun 1653-1669.

Pertempuran Sultan Hasanuddin adalah perjuangan untuk mempertahankan kedaulatannya atas upaya-upaya kolonial dan kolonial politik Belanda (VOC). Awalnya, VOC tidak memperhatikan Gowa – Kerajaan Tallo. Pesan pentingnya Kerajaan Gowa – Thallus tiba setelah kapal Portugis pada masa Gubernur Jenderal J. P. Coen dekat perairan Malaka ditaklukkan oleh VOC.

Kapal itu berisi orang-orang dari Makassar. Sekarang, ia belajar dari masyarakat Makassar betapa pentingnya pelabuhan Somba Opu sebagai pelabuhan transit untuk mengimpor rempah-rempah dari Maluku. Pada 1634, VOC memblokir Kerajaan Gowa, tetapi gagal.

Perang berlanjut dan terputus antara 1637 dan 1638. Itu adalah perjanjian damai, tetapi tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1638 sebuah kapal Bugis diserang dengan cendana dan muatannya dijual ke Portugis. Perang di Sulawesi Selatan berakhir setelah perjanjian Bongaya, yang sangat merusak kerajaan Gowa-Tallo.

Sumber: Sejarah Kerajaan Gowa Tallo

Baca Artikel Lainnya:

Fungsi Obat Metformin Dosis Dan Efek Sampingnya

Cara Menghindari Sakit Saat Mengunjungi Pasien Di Rumah Sakit

 

Posted in: Pendidikan | Tags: , ,

Comments are closed.